Beberapa kali saya terlibat menjadi mentor di salah satu sekolah fotografi. Saat mengajar praktik strobist, sangat sering saya menjumpai cara penggunaan flash yang tidak efektif dari peserta. Terutama jika saat mulai menggunakan banyak flash. Karena itu, kali ini saya akan share langkah-langkah efektif menggunakan banyak flash.

Sebelum membahas hal itu, mari kita fahami dulu sumber cahaya dalam fotografi. Ini penting karena memiliki hubungan yang erat ketika menggunakan strobist untuk pemotretan.

Secara umum, sumber cahaya terbagi dua. Natural light dan Artificial Light.

Natural Light

Sering juga disebut Ambient Light. Sebagian ada yang membedakan dua istilah ini. Perbedaan terletak pada sumber cahayanya. Natural light diartikan sebagai cahaya yang berasal dari matahari. Selain matahari, maka tidak disebut  Natural Light. Sementara Ambient Light dimaknai sebagai cahaya yang tidak hanya berasal dari matahari. Bisa dari lampu dan benda-benda  sekitar yang memancarkan atau memantulkan cahaya.

Perbedaan itu biarlah menjadi materi diskusi grup-grup fotografi.

Saya lebih memilih pengertian Ambient Light sebagai cahaya di sekitar lingkungan kita memotret. sumbernya tidak terbatas hanya dari matahari. Atau bulan.  Dengan kata lain, pencahayaan ini berasal dari cahaya yang sudah tersedia (available light) dan digunakan disuatu lokasi, bukan hasil modifikasi kita sebagai fotografer.

Artificial Light

Kebalikan dari Ambient Light, Artificial Light merupakan cahaya buatan. Sumbernya bisa dari continues light dan flash light. Yang termasuk continues light berupa Lampu pijar, halogen, fluorescent  dan lampu sejenis lain yang sifatnya menyala terus menerus.

Loh, lampu seperti ini kan kerap menjadi bagian sebuah ruangan. Bukannya disebut Ambient light ?

Kita sebagai fotografer kadang punya keterbatasan memodifikasi cahaya yang tersedia di sebuah lokasi.  Misal, memotret di restoran saat jam operasional. Tidak serta merta kita bisa mematikan atau menghidupkan sumber cahaya di tempat itu. Dampaknya dapat mengganggu kenyamanan pengunjung. Sedapat mungkin, pemotretan tidak sampai menggangu bisnis klien. Kecuali, sejak awal memang telah direncanakan dan disepakati bersama.

Demikian juga ketika memotret di lokasi outdor yang matahari atau bulan menjadi sumber cahaya utama. Bisakah mengatur cahaya matahari ?. Tentu tidak.

Yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan.

Flash/speedlite jelas termasuk dalam kategori Artificial Light ini. Sumber cahaya ini sengaja kita ciptakan untuk memotret. Tujuan penggunaannya tentu untuk memodifikasi cahaya sesuai kebutuhan foto. Sebagai fotografer, kita memiliki keleluasaan mengatur besar kecilnya cahaya. Termasuk arahnya. bisa diarahkan langsung ke objek atau arah lain yang kita anggap butuh pencahayaan khusus.

Terkadang kita dituntut menghasilkan foto menggunakan banyak flash. Bisa 3 flash. 4 flash. Bahkan, sebuah foto yang komplek bisa saja butuh penggunaan lebih dari 10 flash.

Penggunaan banyak flash sering menjadi kendala bagi pemula. Akibatnya pemotretan menjadi tidak efektif. Terutama saat menyusun skema lighting.

Nah kali ini saya akan share tentang tahapan mengaktifkan flash. Agar mudah difahami, penamaan flash mulai terjauh hingga yang paling dekat saya urutkan menjadi flash A-B-C-D dan seterusnya. Ini sesuai dengan praktik memotret yang saya lakukan sehari-hari.

Berikut langkah-langkahnya.

Pertama. Ukur Ambient Light. Pengukuran, atau sering disebut metering dilakukan sebelum menghidupkan flash. Tahap ini murni untuk menentukan seberapa banyak ambient light yang ingin dimasukkan dalam foto. Tentu sangat bergantung pada konsep foto apa yang ingin dibuat. Apakah lowkey, mixlight atau highkey. Masing-masing konsep membutuhkan teknik pencahayaan yang berbeda.

Jika konsepnya lowkey, maka aturlah agar ambient light yang masuk menjadi seminimal mungkin. Bila perlu, jangan biarkan masuk. Hasilnya akan menjadi gelap total. Istilah ini lazim disebut kill the ambient light. Hanya cahaya dari flash yang nantinya kita ijinkan masuk sebagai sumber pencahayaan.

Agar mudah difahami saya sertakan beberapa gambar.

Foto 1 : Mengukur Ambient Light

Foto 1 diatas berkonsep mixlight. Terdapat cahaya dari lampu dan matahari yang masuk melalui jendela. Itulah ambient light. alias available light. Ketika ingin memanfaatkannya untuk menerangi background, itulah exposure yang di ukur pertama kali.

Sementara gambar dibawah, konsepnya adalah kill the ambient light. Kondisi ruangan sebenarnya cukup terang. Ada banyak lampu dan cahaya matahari yang masuk dari jendela. Namun sesuai konsep, maka cahaya apapun diruangan tersebut tidak kita biarkan masuk. Buatlah menjadi gelap total. Bukan mematikan lampunya, namun dengan mengatur parameter segitiga exposure di kamera.

Foto 2 : Ambient light ruangan
Foto 3 : Kill ambient light lokasi foto 2

Kedua. Hidupkan flash. Mulailah dari posisi paling belakang. Flash pertama yang aktif ini biasanya saya atur menjadi grup A. Arahkan flash sesuai fungsi yang diinginkan. Jika ingin background menjadi bagian dalam foto, arahkanlah ke background. Dalam hal ini, flash A berfungsi sebagai background Light. Namun Jika tidak membutuhkan cahaya ke latar belakang, fungsinya bisa dialihkan ke yang lain. Misalnya menjadi hairlight, rimlight atau fungsi lain yang arahnya dari belakang objek.

Foto 4 : Flash sebagai Background Light

Ketiga. Hidupkan Flash kedua. Flash ini saya atur sebagai grup B. Kali ini tentukan arahnya ke rambut/kepala. Dengan arah ini maka flash B difungsikan sebagai hairlight. Atur intenstitas dan arah cahaya dengan tepat.

Foto 5 : Flash B sebagai rimlight (test shoot)

Perhatikan gambar diatas. Terlihat jelas arah cahaya flash yang kita fungsikan sebagai hairlight. kita dengan mudah bisa menyesuaikan arah atau intensitas pencahayaan karena tidak terpengaruh oleh flash lain. Itulah sebabnya menyalakan flash secara bertahap saya sebut sangat efektif.

Keempat. Hidupkan Flash ketiga. Flash ini saya atur sebagai grup C. Kali ini arahnya ke badan. Dengan arah ini maka flash C difungsikan sebagai Rimlight.

Rimlight istilah mudahnya adalah cahaya yang membuat garis disekeliling objek dan membentuk sisi/tepi objek. Ini bisa tejadi jika cahaya yang datang dari samping atau belakang objek lebih kuat dari cahaya didepan (keylight). Indikasi sebuah objek terkena rimlight adalah jika bagian tepi terlihat bersinar dan menyala karena objek dilingkupi oleh cahaya yang kuat.

Aturlah intenstitas dan arah cahaya dengan tepat. Sedapat mungkin flash kedua tidak merusak pencahayaan dari flash yang telah dinyalakan sebelumnya.

Kelima. Setelah semua flash dari belakang siap, barulah mulai menghidupkan flash yang di depan. Fungsikan sebagai cahaya utama atau lazim disebut Keylight.

Keenam.Jika dirasa masih kurang, kita bisa menambahkan satu flash lagi. Fungsinya sebagai Fill light, yakni pencahayaan untuk mengisi shadow yang timbul dari keylight. Fill light ini sebisa mungkin tidak menimbulkan bayangan baru.

Foto 7 : Mixed light (menggunakan 2 flash)
Foto 8 : Kill the ambient light (menggunakan 3 flash)

Foto 7 merupakan hasil akhir pemotretan. perhatikan ambient light yang diukur pertama kali tadi. Tidak banyak mengalami perubahan meskipun flash dinyalakan.

Sementara foto 8 adalah hasil akhir pemotretan diruangan yang tampak pada foto 2. Objek hanya kita ijinkan mendapat pencahayaan dari flash.

Sampai disini kita sudah belajar menggunakan flash sebanyak 5 buah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk menghasilkan sebuah foto. Jika ternyata ada konsep yang butuh pemakaian flash lebih dari ini, maka tinggal sesuaikan.

Prinsipnya, hidupkanlah secara bertahap. Sesuaikan rasio masing-masing flash.

Cara seperti ini sangat efektif. Kita akan mudah mengetahui efek dari tiap-tiap flash. Tentu hal ini akan memudahkan saat ingin melakukan perubahan pengaturan flash. Bandingkan jika flash dinyalakan bersamaan. Kita akan kesulitan mengetahui efek cahaya yang dihasilkan dari tiap-tiap flash.

Demikian tips kali ini.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat. dan Salam creatives…(LM)

0Shares